web analytics
formats

Read but not Replied

P1020648

Sometimes, kita sering melihat bahwa pesan yang kita kirimkan telah dibaca..

Tanda centang telah berubah dari centang D menjadi centang R..

Ataupun pada ponsel Android kita menerima notifikasi message read pada message properties..

Namun tidak ada balasan.

Terkadang, kita mulai marah..

Kita mulai mengirimkan PING dan Buzz ke account mereka..

Begitulah juga sikap kita kepada Tuhan.

Kita sering melakukan PING kepada Tuhan..

Mengapa ia tidak segera membalas pesan saya? Mengapa ia tidak segera menjawab permintaan saya?

Percayalah, kawan…
Ia memiliki rencana yang indah bagi kita semua.

Seperti pelangi sehabis hujan, itulah janji setiaMu Tuhan..

God has something better for me; I just have to wait.

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

Tinggal Kenangan

Pernah ada rasa cinta
Antara kita, kini tinggal kenangan
Jauh kau pergi meninggalkan diriku
Di sini, aku merindukan dirimu
Ingin kucoba mencari penggantimu
Namun tak lagi ‘kan seperti dirimu, oh bintangku…

Nyanyian lirih itu dinyanyikan oleh seorang anak perempuan sembilan tahun berbaju merah. Di bawah naungan cahaya rembulan, di pinggir sungai di bilangan Surabaya Selatan. Aku menghampirinya.

“Vira?”, tanyaku. “Kenapa kamu di sini? Tidakkah kamu mengulang pelajaran untuk ujian besok?” Ya, besok adalah hari ujian bagi Vira.

“Enggak, Mas. Aku nggak bisa belajar.”

“Kenapa? Susah pelajarannya? Kan tadi siang sudah aku ajarin,” kataku. Tadi siang, aku mengajari mereka — anak-anak pinggiran — di sebuah sanggar tidak jauh dari situ.

Vira mulai meneteskan air mata. “Hari ini hari ulang tahun ibuku, Mas..”

Aku merogoh sakuku, membuka halaman pertama notes-ku. 6 Mei. Ah, pikiranku teringat tentang Bu Lastri, ibu dari Vira.

“Aku pingin ketemu ibu, Mas..”, ucap Vira lirih. Kulihat ia mulai meneteskan air mata dari mata coklatnya. Sepasang mata yang mengingatkanku pada dua temanku, Monica dan Angel, yang sama-sama bermata coklat seperti Vira.

Air mata itu mulai membasahi pipi putihnya. Ya, Vira memang berbeda dari kebanyakan anak jalanan lainnya. Ia bermata coklat indah, dengan rambut pirang seperti jerami, namun lembut seperti kapas. Kulitnya putih, lebih putih dari bintang iklan sabun di televisi.

Kak Lea, salah satu pembimbing sanggar tempat anak-anak jalanan tersebut berkumpul, pernah suatu waktu mengatakan bahwa sebenarnya Vira adalah anak hasil hubungan di luar nikah. Bu Lastri sempat diculik oleh beberapa bule, lalu dibawa ke suatu tempat. Beberapa bulan kemudian, Bu Lastri muntah-muntah dan ditemukan hamil. Tidak salah, bila Vira sangat berbeda dengan ibunya. Berambut pirang, bermata coklat, berkulit putih. Hanya hidungnya yang tidak mirip bule.

Kulihat air mata Vira semakin banyak. Ia mengatakan kepadaku dengan terisak. “Mas, aku ingin mencari ibu!”

Kebetulan minggu itu, aku libur dan sedang tidak ada keperluan mendesak. “Ya sudah, kalau gitu besok aku bantu mencari ibu.” Vira tampak sangat sumringah sekali. Vira pun lari masuk ke dalam ladang pisang yang merupakan jalan pintas ke rumahnya, dengan girang seperti seekor kucing mendapatkan sekerat ikan goreng.

Malam itu, aku menceritakan niatku kepada Kak Lea di sanggar. Kak Lea mengatakan suatu hal kepadaku. “Kalau kamu ingin mencari Bu Lastri, terakhir aku mengetahui dia berada di sini,” sambil memberikanku secarik alamat. Ia menunjukkanku lokasi alamat tersebut pada BlackBerry-nya. “Wah, cukup jauh ya, ” kataku.

—————–

Keesokan harinya, aku meminjam helm milik Satrio. Helm kecil yang pas sekali di kepala mungil Vira.  Aku menunggu ia di sanggar. Dari ujung kebun pisang aku melihat seorang anak kecil berlari dengan riang. Ya, Vira  nampak sangat gembira sekali hari ini. Sesampainya di sanggar, ia langsung melompat naik ke motorku. Aku yang masih berbincang dengan Kak Lea cukup kaget. Kuucapkan selamat tinggal pada Kak Lea dan segera kuarahkan motorku ke arah selatan, menuju alamat yang diberikan oleh Kak Lea.  Ketika di jalan, aku katakan kepada Vira untuk berpegangan cukup kuat pada handrail motor.

Baru saja kami keluar dari area pemukiman, Vira mengatakan padaku. “Kak, aku lapar…” Akhirnya aku menepi ke sebuah warung untuk menyantap makan pagi. Aku membelikan Vira nasi ayam goreng kesukaannya. Ia makan dengan sangat lahap.

Tiba-tiba di tengah-tengah santap pagi kami, hujan turun. “Wah, hujan turun nih.  Aku nggak bawa jas hujan,” kataku. “Gimana Vir, mau lanjut sekarang atau tunggu hujannya selesai?”

“Sekarang saja, Kak! Aku tidak sabar pingin ketemu dengan ibu!”

“Tapi aku nggak bawa jas hujan, Vir..”

Si ibu penjaga warung mendengar obrolan kami berdua. “Mas, mending Mas bawa jas hujan saya dulu saja,” kata ibu itu. Vira pun nampak sangat senang. Aku pun membayar nasi ayam dan nasi campur yang kami makan. Nampaknya Vira terpaku pada acara kartun kesukaannya di televisi, yang sering tayang pada Minggu pagi. Melihat peluang tersebut, ketika saya membayar ibu itu mengatakan padaku dengan setengah berbisik. “Mas, masnya mau nyari ibunya Vira ya?”, katanya. “Iya Bu,” kataku.  ”Apakah ibu tahu dimana ibunya Vira sekarang?”

“Dia ada di sana, Mas..”, katanya dengan lirih. Ia menyebutkan sebuah alamat. Alamat yang sama dengan yang diberikan Kak Lea kepadaku. “Gini mas, ibunya Vira sekarang sedang sakit-sakitan. Kata orang-orang sih, ia mengidap HIV. Apa mas tidak takut membawa Vira ke sana?”

“Tidak apa-apa, Bu. Vira sudah sangat kangen dengan ibunya. Lagian, penyakit HIV tidak menular seperti flu, Bu. Hanya dari pertemuan darah kedua orang baru penyakit itu menular,” kataku. Ibu itu mengangguk, nampaknya mengerti bahwa anggapannya selama ini tentang HIV itu salah.

Kami pun segera menaiki motor dan bergegas menuju ke alamat tersebut. Lokasinya cukup jauh, sekitar tiga jam perjalanan. “Ah, harusnya tadi aku bawa mobil saja, biar bisa lewat tol dan tidak kehujanan,” kataku. Namun aku mengurungkan niatku ketika melihat arus perjalanan kini sudah mulai macet dan jika aku berbalik dan mengambil mobil pasti membuang waktu di tengah kemacetan.

Kupacu motorku dengan kecepatan yang cukup cepat di jalur cepat antarkota. Delapan puluh kilometer per jam. Mungkin tidak terlalu cepat bagi orang kebanyakan, namun  dalam kondisi hujan seperti ini aku rasa cukup cepat. Tiba-tiba di sisi kanan ada mobil yang menyalip motor kami dengan kecepatan tinggi hingga menciprati kami dengan air hujan.

Vira kaget. Ia melepaskan tangannya sambil menjerit. Nahas, ia tidak bisa menyeimbangkan dirinya, apalagi dengan kecepatan motor yang cukup tinggi dan angin yang cukup kencang. Ia oleng dan terserempet oleh mobil pikap yang membawa karung beras. Untung saja ia sempat menarik jaketku, hingga ia tidak sampai jatuh dari motor.

Aku pun segera menepikan motorku dan melihat kondisi Vira. Tangan putihnya terluka parut akibat karung goni yang kasar. Untunglah aku membawa obat merah dan kapas di kotak P3K kecil di bagasi motor. Kuobati lukanya di tengah rintik-rintik hujan. Setelah menutup lukanya dengan kapas dan plester, aku melanjutkan perjalananku.

———————

Akhirnya, di sore hari, tibalah kami di tempat Bu Lastri. Ponselku berdering. Ternyata dari Kak Lea. Ia menanyakan apakah kami sudah tiba. Aku katakan bahwa kami baru saja sampai di depan lokasi perkampungan Ibu Lastri. Vira yang mengetahui bahwa itu adalah Kak Lea langsung merebut ponsel tersebut dari genggamanku dan mengatakan dengan senang bahwa ia sebentar lagi akan bertemu sang bunda.

Vira bergegas masuk ke dalam jalanan perkampungan. Ia bertanya kepada warga sekitar di mana rumah dari Bu Lastri, namun tidak ada yang menjawab. Nampaknya semua warga sedang bingung, berkerumun di sebuah rumah di ujung jalan.

Kami menuju ke sana. Vira, yang melihat seorang ibu terbaring di atas tikar, segera mengenalinya dan memeluknya. “Ibu!”, katanya sambil bercucuran air mata.

“Vira, anakku..” kata Bu Lastri lemah.

“Ibu sebentar lagi sudah harus menghadap Tuhan, nak…”

Kata warga sekitar, Bu Lastri menderita kanker yang cukup parah akibat terlalu keras bekerja hingga malam.

“Ibu! Jangan tinggalkan aku!”

Vira menangis sejadi-jadinya. Beberapa saat kemudian, Bu Lastri telah tiada..

“Mas, Bu Lastri sungguh beruntung,” kata seorang warga. “Ia dari tadi menangis mencari anaknya. Untunglah Vira datang ke sini, Mas..”

 

~I purposely left this story hanging.~

~Let the readers decide what’s the best ending for this story…
especially related to the chunk of lyrics I’ve posted at the beginning.~

 

~

 

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

Panggilan Tuhan

Di suatu pagi yang cerah, saat saya masih sibuk bekerja di depan beberapa lembar kertas, tiba-tiba nada notifikasi ponsel saya berbunyi. Tingtung tingtung.

Di homescreen nampak sebuah ikon bintang merah. Lampu LED di ujung kanan atas menyala, berkedap-kedip seakan memanggilku untuk meraihnya, menekan tombol kunci dan membuka pesan tersebut.

BlackBerry

Namun, apakah kita pernah merasakan panggilan Tuhan?

Terkadang kita sendiri lebih mementingkan sesuatu yang nampak di dunia daripada Tuhan. Jika kita merasa sendiri, mungkin kita akan meraih ponsel kita dan mulai membuka BlackBerry Messenger dan Yahoo Messenger serta Twitter dan Facebook, namun di tengah kesendirian kita tersebut kita tak pernah mengingat Tuhan…

Jika kita berhasil melakukan sesuatu, ataupun baru saja mendapat sebuah untung yang sangat besar, kita langsung meraih handphone dan mempostingnya di Facebook serta Twitter dan mengupdate status BBM..

Namun kita tidak pernah ingat untuk memberikan sebuah posting pada Tuhan, sebuah ucapan terima kasih bahwa Ia telah memberikan rahmatNya bagi kita.

Mungkin kita hanya menyadari ketika kita berdoa dan memohon kepada Tuhan dengan sungguh-sungguh, kita sedang berada dalam kondisi yang susah, kondisi yang murung, berduka, dimana kita butuh untuk mencurahkan isi hati dan perasaan kita..

Ataupun sebuah kondisi di mana kita sangat galau dengan sebuah permasalahan yang kita hadapi dan kita sangat menginginkan bantuan…

Saat-saat itulah Tuhan ingin kita berbicara padaNya. Ia ingin kita lebih dekat denganNya melalui doa kita kepadaNya, namun kita sering lupa untuk chatting dengan Tuhan..

God bless you! :)

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

Berpindah Haluan

Suatu hari, sebuah kapal besar yang dikapteni oleh seorang petinggi militer berjalan di tengah lautan. Hari itu cuaca tidak cukup baik, udara dipenuhi oleh kabut. Tiba-tiba, asistennya yang mengamati radar menemukan sinar terang dari kejauhan. Ia memberitahukan kepada kaptennya, “Kapten! Ada objek asing yang menghalangi arah jalan kita,” sambil menunjuk arah pada radarnya.

Sang kapten segera berlari menuju alat komunikasi dan mulai mengirimkan kode morse. “Kapal tentara di sini. Anda menghalangi jalan kami, sebaiknya anda berpindah haluan lima belas derajat.”

Tidak berapa lama, balasan tiba. “Sebaiknya bukan saya yang berpindah haluan, namun anda.”

Sang asisten memperingatkan lagi, “Kapten! Anda harus segera mengambil tindakan. Kita akan segera menabrak objek ini!”

Sang kapten mulai panik. Ia mengirimkan pesan lagi. “Sekali lagi, saya ingatkan. Anda harus berpindah haluan lima belas derajat dari arah saya.”

Balasan masuk. “Kami tidak dapat berpindah haluan. Sebaiknya andalah yang segera memindahkan haluan Anda!”

Sang kapten marah. “Mohon anda berpindah haluan sekarang! Kami kapal militer, dan saya adalah seorang perwira. Jika Anda tidak berpindah haluan, maka saya akan menembak anda!” Sesegera setelah mengirim pesan, ia menyiapkan pelurunya untuk menembak objek tersebut.

“Sudah kami bilang, kami tidak dapat berpindah haluan. Kami adalah mercusuar,” balas objek tersebut.

Sang kapten kemudian memindahkan kemudinya, namun semuanya sudah terlambat…

 

———————-

 

Kisah di atas menceritakan tentang adanya kondisi dan response. Sebenarnya salah satu rumus hidup ini cukup simpel: kondisi + response = hasil. Kita tidak dapat mengubah kondisi kita, namun kita dapat mengubah response kita. Jika beberapa hari sebelum UNAS kita tidak siap, kita tidak dapat mengubah kondisi waktu kita yang sudah tinggal beberapa hari sebelum UNAS dan kita tidak dapat memundurkan waktu UNAS, namun apa yang bisa kita ubah adalah response kita dalam menghadapi suatu masalah.

 

Inspired from NeoDemocrazy, Metro TV 9.30PM

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

The Pocket of Potato

Mengingat Titi (Christiandy), saya teringat sesuatu. Kata yang sering ia ucapkan di BBM adalah “Kentang”… :D

Ada sebuah cerita menarik tentang kentang. :)

One day, di sebuah sekolah dasar, seorang guru mengumumkan pada murid-muridnya.

“Mulai besok, kalian harus membawa kentang dalam sebuah kantong plastik. Anggaplah musuh kamu itu sebagai kentang. Jika kalian punya 1 musuh, masukkan dia sebagai kentang dalam kantung tersebut. Jika kalian punya lebih banyak musuh, bawalah lebih banyak!”

Anak-anak itu bersorak-sorai. Esok harinya, mereka mulai membawa kentang. Ada yang membawa satu, ada yang membawa dua, ada yang membawa lima. “Buatlah kalung, ikatlah kalung itu pada tali dan tali itu pada kantung itu. Bawalah kantung itu kemanapun kalian pergi. Kalian senang, bukan, apabila musuh kalian ada di genggaman kalian dan mereka tidak dapat mengganggu kalian?”

Mulailah anak-anak itu mengalungkan kentang-kentang itu.

Tiga hari kemudian, kentang itu mulai membusuk. Dan baunya mulai tidak sedap.

“Bu, kentangnya sudah mulai busuk.. Bisakah kami melepaskannya?”

“Tidak, tunggu besok. Tapi, ijin saya dulu ya,” kata sang guru.

Besoknya, anak-anak menanyakan hal yang sama. Jawaban sang guru masih sama: besok.

Setelah melalui banyak “besok demi besok”, akhirnya suatu siang sang guru mengatakan: “Kalian sekarang boleh buang kantong itu.” Anak-anak senang, lega.

Apa yang bisa kita tarik dari paragraf analogi di atas? Janganlah ‘memendam musuh’ kalian terlalu lama. Semakin kalian memusuhi seseorang, semakin busuklah ia, semakin ia menjadi beban dalam diri kalian. Buanglah jauh-jauh perasaan negatif kalian terhadap musuh kalian tersebut, maka hidup kalian akan menjadi lebih lega, seperti anak kecil yang melepaskan kentang-kentang busuknya.

 

Inspired from a speech by Fr. Adrian, 3 May 2012 @ Balai Paroki Atas, Gereja St Aloysius Gonzaga Surabaya

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

God’s Plans Are Better

Published on 2 May 2012 by in Apple

Suatu hari, ada dua orang cerdas yang sangat unggul dalam pelajaran. Sebut saja, Ani dan Budi. Tidak ada cerita pelajaran susah bagi mereka. Semuanya mereka babat habis.

Tibalah saatnya mereka lulus SMA. Mereka mengikuti EBTANAS (pada saat itu, belum ada Ujian Nasional) dengan hasil yang sangat memuaskan.

Tentulah, mereka percaya diri untuk melamar di universitas favorit. Ani sangat menyukai Biologi, sehingga ia melamar di jurusan Kedokteran. Budi, si pecinta matematika dan ilmu teknik, memilih masuk ke jurusan Teknik Sipil.

Sebuah keanehan terjadi. Meskipun nilai mereka gemilang — sangat gemilang, bahkan — mereka tidak diterima! Apa boleh buat, akhirnya mereka mengambil kuliah di jurusan Ekonomi.

Nampaknya, apa yang terjadi jauh dari rencana awal mereka. Namun, sekarang, mereka menjadi dua orang yang cukup sukses. Budi menjadi sebuah direktur perusahaan multi-nasional, sedangkan Ani menjadi wiraswastawan yang memiliki wilayah konsumen seluruh Indonesia, bahkan hingga Asia.

Quote of the day: "Dear God, if someday I lose my hope, please tell me that your plans are better than my dreams."

——————-

Cerita yang saya tulis di atas sebenarnya bersumber dari cerita nyata, yang pernah saya jurnalkan juga. Namun karena filenya nggak ketemu, saya tulis lagi, dan sengaja saya bengkokkan sedikit dari kisah aslinya untuk mengaburkan unsur bahwa saya mempublikasikan cerita personal orang :) Namun inti ceritanya tetap sama, kok.

Inspired by Mr Yonatan Supriadi (SMAK St Louis 1 Surabaya) and flixflexx.tumblr.com via Ivonne Alvina.

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

Learn How to Read Korean in 15 Minutes

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

Untitled (yet) :)

This is one of my writing that is composed from my imagination *oas*. I’m sorry if there is any imperfections in this story :)

I haven’t decided a title for this text because I need to go now~

————–

Malam itu, Lina dan Rey nampak begitu bahagia. Pesta pernikahan mereka yang sangat megah membuat mereka nampak seperti raja dan ratu — walau hanya semalam.

Sayang sekali, kebahagiaan tersebut tidak berlangsung hingga bulan kedua pernikahan mereka. Tatkala suatu malam Lina harus melalui operasi pengangkatan rahim karena kanker serviks yang dideritanya. Alhasil, pasangan ini tidak akan bisa memenuhi salah satu hal yang sangat dirindukan sebuah pasangan suami isteri: memiliki putra dan putri kandung.

Rey nampak begitu terpukul. Tak lama kemudian, ia jatuh sakit karena stroke. Suatu hal yang aneh, mengingat usianya yang cukup muda. Nampaknya ia menderita stroke karena beban pikirannya.

Suatu hari, Rey memberikan pesan kepada Lina. “Lin, sebaiknya kamu mengadopsi seorang putri. Aku ingin melihat kita berdua memiliki putri — meski bukan putri kandung — sebelum akhir hayatku.”

Lina pun menyanggupinya. Berita baik datang dari seorang kawan, yang memberitahukan bahwa ada seorang bayi putri yang bisa diadopsi di salah satu panti asuhan. Lina pun jatuh cinta pada putri itu dan akhirnya mengadopsinya sebagai putrinya. Ia memberi nama putri tersebut Vina. Regina Levina, lengkapnya.

Benar kata Rey, ketika Rey melihat putri tersebut, ia tersenyum, dan tidak lama kemudian, ia telah beranjak dari kasurnya menuju rumah abadi di atas sana. Lina pun membesarkan Vina sebagai seorang single parent.

Seventeen years later…

Lina tampak gelisah. Hari yang dinantikannya — tidak, hari yang ditakutkannya — sudah tiba. Tujuh belas tahun kemudian. Sesuai dengan perjanjian ketika ia mengadopsi Vina dulu, ia mau tidak mau harus menceritakan kepada Vina bahwa Vina sebenarnya diadopsi oleh Lina.

Vina, yang baru saja pulang dari sekolah, bingung melihat bundanya yang gelisah. Lina pun memberanikan diri untuk duduk, berbincang dengan Vina. Menyatakan sebuah hal yang harus ia katakan tentang Vina.

“Vina, anakku,” kata Lina sambil terisak dan gugup. “Aku harus mengatakan yang sebenarnya, Nak. Sebenarnya, tujuh belas tahun yang lalu, aku mengadopsi kamu di panti asuhan…”

“Apa?Jadi, aku bukan anak Mama?” Vina pun terisak. “Ibuku siapa, ayahku siapa? Siapa, Ma?”

“Vina, meski kamu bukan anak kandung Mama, kamu tetap anak Mama yang Mama sayangi,” kata Lina sambil memeluk Vina.

“Tapi Vina ingin tahu siapa ayah dan ibu Vina!” Ia pun beranjak, lari dari rumah sekencang-kencangnya. Lina mengejarnya, namun tak sanggup..

—-

Hari sudah sore. Tibalah Vina di pinggir sebuah pantai.  Ia jatuh, merebahkan diri di atas pasir pantai yang lembut. Ia merasa sangat lelah. Ia menulis-nulis di pasir pantai tersebut, mengekspresikan kegalauan dan kegundahan hatinya..

Seorang ibu nelayan kembali dari perairan setelah menjaring ikan. Ia melihat Vina sedang menulis-nulis dengan galaunya di pinggir pantai. “Nak, hari sudah sore. Sebaiknya kamu pulang, daripada ombak pantai yang semakin pasang menerjangmu. Pasti ayah ibumu mencari kamu,” kata nelayan tersebut.

“Tidak, Bu. Aku mencari orang tuaku,” kata Vina. Ia mencoba beranjak, namun ia terlalu lemah.. dan ahkirnya ia terpeleset setelah diterjang ombak lemah yang menyapu pasir tempat ia berada. Ibu nelayan tersebut segera membawanya ke rumahnya.

Sesampainya di rumah, ia menyalakan lampu. Kemudian, ia merasa bahwa ia sangat mengenal wajah gadis kecil ini. “Minah?”, tanyanya dalam hati. Ia mulai ragu dan akhirnya ia pergi keluar, mencari sang suami yang sedang berada di ladang.

Ketika ia sedang berlarian menuju ladang, ia bertemu dengan seorang wanita, yang ternyata adalah Lina. “Ibu lihat seorang gadis dengan pakaian ungu di sekitar sini?”, kata Lina. “Ya, saya lihat. Dia sekarang sedang ada di rumah saya, setelah ia jatuh tidak sadarkan diri di sekitar sini. Namun tunggu sebentar, saya harus mencari suami saya terlebih dahulu,” kata ibu nelayan tersebut. Lina pun menunggu di situ.

Tidak berapa lama, ibu tersebut kembali bersama suaminya. Ia akhirnya pulang, dan Lina bertemu dengan Vina. Sang suami dari ibu nelayan tersebut juga menyadari bahwa gadis yang sedang ada di rumahnya tersebut adalah Minah, anak mereka yang dititipkan ke panti asuhan tujuh belas tahun lalu.

“Ini anak kami, Bu,” kata wanita tersebut. “Kami menitipkannya di panti asuhan tujuh belas tahun yang lalu, karena kami tidak memiliki cukup biaya untuk merawatnya.”

“Jadi, ini anak ibu?” kata Lina sedikit terkejut. “Saya mengadopsinya tujuh belas tahun yang lalu, karena saya tidak bisa memiliki keturunan akibat kanker rahim yang saya derita.”

“Terima kasih banyak, Bu, telah merawat anak saya,” kata bapak petani sambil menundukkan kepala. “Tuhan, terima kasih engkau sudah memberikan seseorang yang sangat perhatian terhadap nasib anak kami..” ucap mereka.

Akhirnya, Vina pun bangun. Lina menjelaskan pada Vina tentang orang tua asli Vina yang ia dambakan. Vina pun pulang bersama Lina, dan orang tua asli Vina akhirnya diajak oleh Lina untuk bekerja menjaga toko Lina di dekat rumahnya. Mereka pun menjadi sebuah keluarga yang sangat bahagia.

~

—————

Part of this text inspired from a chat with Nana :)
Honorable mention comes from Inke Estherlita and James Nakoda, 22 Apr 2012.
Segala kesamaan nama disengaja :) namun tidak ada hubungannya dengan orang aslinya :)
Ps. I just realized that the 18th paragraph seemed like one episode in Termehek-Mehek Trans TV. I have no corelations with TransTV crew and this similar story was not inspired by that program.

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

Cloudy with a Chance of Keyballs

After reading Afourever’s post about the deface (a kind of website hacking) done to their website, I wanted to post this writing on SampaiTua :) This is a writing that I’ve written long before Unas — err, well, around two weeks before — and has done through several revisions. Everything has been clear, now, so I think that I am able to share this story to the world. 

————————————————————

1 April 2012. Kemarin, saya baru saja dari sebuah mall di sisi ujung barat Surabaya. Ngapain? Mangan gratis. :P Ceritanya, habis ada sweet. Setelah sweet, saya mbarengin beberapa temen-temen yang lain beli beberapa digital video disc di ujung belakang mall tersebut. Salah satunya, si Evelyn, yang membeli sebuah DVD film animasi Cloudy with a Chance of Meatballs, selain membeli beberapa seri animasi lainnya seperti Beverly Hills Chihuahua dan Rapunzel (ps. yang ini saya lupa :P )

Hari sudah larut. Jarum pendek jam sudah mulai menginjak kuadran dua trigonometri. Hal itu berarti kita harus segera pulang. Dalam perjalanan menuju parkiran, salah satu teman saya mengatakan bahwa film itu cukup bagus. Why? Karena dia pernah nonton di Lab Bahasa. (-_-”)

Well, malam itu saya menyalakan komputer saya, mengetikkan sebuah perintah yang menginstruksikannya untuk mengunduh film tersebut. Sejenak kemudian, proses pengunduhan dimulai. Saya tinggal tidur dengan harapan besok pagi sudah bisa melihat download selesai. :)

Di pagi hari, jam delapan pagi, saya memutar movie tersebut. Ceritanya sendiri cukup simpel. Diceritakan seorang penemu muda, Flint Lockwood, yang menemukan alat untuk mengubah air menjadi makanan menggunakan gelombang elektromagnetik.

Walikota yang rakus menjadikan hal ini sebagai potensi wisata. Ia mulai meload berbagai macam makanan ke dalam sistem tersebut dan ahkirnya menjadikan sistem tersebut mulai overload. Seorang wartawan cuaca, Samantha Sparks, mencegah hal tersebut dan mengatakan bahwa mulai ada yang tidak normal terhadap cuacanya, namun Flint ngeyel dan mengatakan bahwa semuanya tidak apa-apa.

Finally, hal yang tidak diharapkan terjadi. Terjadilah bencana besar yang diakibatkan oleh lebihnya tingkat radiasi sehingga membuat makanan raksasa. Akhirnya, kota itu diluluh-lantakkan oleh badai makanan dari angkasa, yang akhirnya dapat ditaklukan ketika sang penemu menancapkan USB drive-nya ke dalam mesin tersebut.

Was it a nice story? Well, ask Evelyn for that :) she’s really a Disney maniac. :D

But for me, it is a nice story. Why is it a nice story? Because the story is nearly the same with what I have just experienced.

Once, me and James made an invention. A software that can read SQLs remotely and yadda yadda. It was a complex software that is a final version of two years experimenting and finally it was complete and working out of the drawing board.

Software itu berjalan sangat baik, meski masih memiliki sedikit kekurangan dan antarmukanya kurang rapi. Semakin hari, semakin menyebarlah kabar software ini.

Kalau di film tersebut ada Samantha Sparks, di sini ada Sharleen dan Ivonne. Mereka berdua mencegah kami untuk melakukan sesuatu yang lebih ekstrim. “Sudahlah, jangan dilanjutkan. Kau tidak akan pernah tahu apabila mereka memonitor kamu secara diam-diam,” kata Sharleen. Nampaknya ia sudah banyak membaca novel Sherlock Holmes atau sudah hafal dengan jalan cerita Mission Impossible. :)

Ivonne juga mengingatkan. “Berita ini jangan disebarluaskan. Tar malah jadi masalah,” kata Ivonne dengan bahasa khas-nya.

Namun apa jawab kami? “Tidak apa-apa..”.

Persis apa kata Flint.

Dan akhirnya?  You know.

 

The moral value that I can get from this story, is that an invention — or simply, everything — which does a good thing actually, can turn into a bad thing, for ourself and/or for the others. Seperti sebuah roket — saya teringat dengan peristiwa launching roket Korea Utara – dimana sebuah roket bisa menjadi pembawa perdamaian bahkan menjadi penyelamat dengan meluncurkan satelit untuk memantau badai dan tsunami, misalnya — atau bahkan roket tersebut dapat menjadi sebuah penghancur dengan mengganti satelit di ujungnya dengan hulu ledak.

~

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments 
formats

eh iki lek misale ada post atau comment gitu gak isa ada notifnya ta?

 
 Share on Facebook Share on Twitter Share on Reddit Share on LinkedIn
No Comments  comments