Pernah ada rasa cinta
Antara kita, kini tinggal kenangan
Jauh kau pergi meninggalkan diriku
Di sini, aku merindukan dirimu
Ingin kucoba mencari penggantimu
Namun tak lagi ‘kan seperti dirimu, oh bintangku…
Nyanyian lirih itu dinyanyikan oleh seorang anak perempuan sembilan tahun berbaju merah. Di bawah naungan cahaya rembulan, di pinggir sungai di bilangan Surabaya Selatan. Aku menghampirinya.
“Vira?”, tanyaku. “Kenapa kamu di sini? Tidakkah kamu mengulang pelajaran untuk ujian besok?” Ya, besok adalah hari ujian bagi Vira.
“Enggak, Mas. Aku nggak bisa belajar.”
“Kenapa? Susah pelajarannya? Kan tadi siang sudah aku ajarin,” kataku. Tadi siang, aku mengajari mereka — anak-anak pinggiran — di sebuah sanggar tidak jauh dari situ.
Vira mulai meneteskan air mata. “Hari ini hari ulang tahun ibuku, Mas..”
Aku merogoh sakuku, membuka halaman pertama notes-ku. 6 Mei. Ah, pikiranku teringat tentang Bu Lastri, ibu dari Vira.
“Aku pingin ketemu ibu, Mas..”, ucap Vira lirih. Kulihat ia mulai meneteskan air mata dari mata coklatnya. Sepasang mata yang mengingatkanku pada dua temanku, Monica dan Angel, yang sama-sama bermata coklat seperti Vira.
Air mata itu mulai membasahi pipi putihnya. Ya, Vira memang berbeda dari kebanyakan anak jalanan lainnya. Ia bermata coklat indah, dengan rambut pirang seperti jerami, namun lembut seperti kapas. Kulitnya putih, lebih putih dari bintang iklan sabun di televisi.
Kak Lea, salah satu pembimbing sanggar tempat anak-anak jalanan tersebut berkumpul, pernah suatu waktu mengatakan bahwa sebenarnya Vira adalah anak hasil hubungan di luar nikah. Bu Lastri sempat diculik oleh beberapa bule, lalu dibawa ke suatu tempat. Beberapa bulan kemudian, Bu Lastri muntah-muntah dan ditemukan hamil. Tidak salah, bila Vira sangat berbeda dengan ibunya. Berambut pirang, bermata coklat, berkulit putih. Hanya hidungnya yang tidak mirip bule.
Kulihat air mata Vira semakin banyak. Ia mengatakan kepadaku dengan terisak. “Mas, aku ingin mencari ibu!”
Kebetulan minggu itu, aku libur dan sedang tidak ada keperluan mendesak. “Ya sudah, kalau gitu besok aku bantu mencari ibu.” Vira tampak sangat sumringah sekali. Vira pun lari masuk ke dalam ladang pisang yang merupakan jalan pintas ke rumahnya, dengan girang seperti seekor kucing mendapatkan sekerat ikan goreng.
Malam itu, aku menceritakan niatku kepada Kak Lea di sanggar. Kak Lea mengatakan suatu hal kepadaku. “Kalau kamu ingin mencari Bu Lastri, terakhir aku mengetahui dia berada di sini,” sambil memberikanku secarik alamat. Ia menunjukkanku lokasi alamat tersebut pada BlackBerry-nya. “Wah, cukup jauh ya, ” kataku.
—————–
Keesokan harinya, aku meminjam helm milik Satrio. Helm kecil yang pas sekali di kepala mungil Vira. Aku menunggu ia di sanggar. Dari ujung kebun pisang aku melihat seorang anak kecil berlari dengan riang. Ya, Vira nampak sangat gembira sekali hari ini. Sesampainya di sanggar, ia langsung melompat naik ke motorku. Aku yang masih berbincang dengan Kak Lea cukup kaget. Kuucapkan selamat tinggal pada Kak Lea dan segera kuarahkan motorku ke arah selatan, menuju alamat yang diberikan oleh Kak Lea. Ketika di jalan, aku katakan kepada Vira untuk berpegangan cukup kuat pada handrail motor.
Baru saja kami keluar dari area pemukiman, Vira mengatakan padaku. “Kak, aku lapar…” Akhirnya aku menepi ke sebuah warung untuk menyantap makan pagi. Aku membelikan Vira nasi ayam goreng kesukaannya. Ia makan dengan sangat lahap.
Tiba-tiba di tengah-tengah santap pagi kami, hujan turun. “Wah, hujan turun nih. Aku nggak bawa jas hujan,” kataku. “Gimana Vir, mau lanjut sekarang atau tunggu hujannya selesai?”
“Sekarang saja, Kak! Aku tidak sabar pingin ketemu dengan ibu!”
“Tapi aku nggak bawa jas hujan, Vir..”
Si ibu penjaga warung mendengar obrolan kami berdua. “Mas, mending Mas bawa jas hujan saya dulu saja,” kata ibu itu. Vira pun nampak sangat senang. Aku pun membayar nasi ayam dan nasi campur yang kami makan. Nampaknya Vira terpaku pada acara kartun kesukaannya di televisi, yang sering tayang pada Minggu pagi. Melihat peluang tersebut, ketika saya membayar ibu itu mengatakan padaku dengan setengah berbisik. “Mas, masnya mau nyari ibunya Vira ya?”, katanya. “Iya Bu,” kataku. ”Apakah ibu tahu dimana ibunya Vira sekarang?”
“Dia ada di sana, Mas..”, katanya dengan lirih. Ia menyebutkan sebuah alamat. Alamat yang sama dengan yang diberikan Kak Lea kepadaku. “Gini mas, ibunya Vira sekarang sedang sakit-sakitan. Kata orang-orang sih, ia mengidap HIV. Apa mas tidak takut membawa Vira ke sana?”
“Tidak apa-apa, Bu. Vira sudah sangat kangen dengan ibunya. Lagian, penyakit HIV tidak menular seperti flu, Bu. Hanya dari pertemuan darah kedua orang baru penyakit itu menular,” kataku. Ibu itu mengangguk, nampaknya mengerti bahwa anggapannya selama ini tentang HIV itu salah.
Kami pun segera menaiki motor dan bergegas menuju ke alamat tersebut. Lokasinya cukup jauh, sekitar tiga jam perjalanan. “Ah, harusnya tadi aku bawa mobil saja, biar bisa lewat tol dan tidak kehujanan,” kataku. Namun aku mengurungkan niatku ketika melihat arus perjalanan kini sudah mulai macet dan jika aku berbalik dan mengambil mobil pasti membuang waktu di tengah kemacetan.
Kupacu motorku dengan kecepatan yang cukup cepat di jalur cepat antarkota. Delapan puluh kilometer per jam. Mungkin tidak terlalu cepat bagi orang kebanyakan, namun dalam kondisi hujan seperti ini aku rasa cukup cepat. Tiba-tiba di sisi kanan ada mobil yang menyalip motor kami dengan kecepatan tinggi hingga menciprati kami dengan air hujan.
Vira kaget. Ia melepaskan tangannya sambil menjerit. Nahas, ia tidak bisa menyeimbangkan dirinya, apalagi dengan kecepatan motor yang cukup tinggi dan angin yang cukup kencang. Ia oleng dan terserempet oleh mobil pikap yang membawa karung beras. Untung saja ia sempat menarik jaketku, hingga ia tidak sampai jatuh dari motor.
Aku pun segera menepikan motorku dan melihat kondisi Vira. Tangan putihnya terluka parut akibat karung goni yang kasar. Untunglah aku membawa obat merah dan kapas di kotak P3K kecil di bagasi motor. Kuobati lukanya di tengah rintik-rintik hujan. Setelah menutup lukanya dengan kapas dan plester, aku melanjutkan perjalananku.
———————
Akhirnya, di sore hari, tibalah kami di tempat Bu Lastri. Ponselku berdering. Ternyata dari Kak Lea. Ia menanyakan apakah kami sudah tiba. Aku katakan bahwa kami baru saja sampai di depan lokasi perkampungan Ibu Lastri. Vira yang mengetahui bahwa itu adalah Kak Lea langsung merebut ponsel tersebut dari genggamanku dan mengatakan dengan senang bahwa ia sebentar lagi akan bertemu sang bunda.
Vira bergegas masuk ke dalam jalanan perkampungan. Ia bertanya kepada warga sekitar di mana rumah dari Bu Lastri, namun tidak ada yang menjawab. Nampaknya semua warga sedang bingung, berkerumun di sebuah rumah di ujung jalan.
Kami menuju ke sana. Vira, yang melihat seorang ibu terbaring di atas tikar, segera mengenalinya dan memeluknya. “Ibu!”, katanya sambil bercucuran air mata.
“Vira, anakku..” kata Bu Lastri lemah.
“Ibu sebentar lagi sudah harus menghadap Tuhan, nak…”
Kata warga sekitar, Bu Lastri menderita kanker yang cukup parah akibat terlalu keras bekerja hingga malam.
“Ibu! Jangan tinggalkan aku!”
Vira menangis sejadi-jadinya. Beberapa saat kemudian, Bu Lastri telah tiada..
“Mas, Bu Lastri sungguh beruntung,” kata seorang warga. “Ia dari tadi menangis mencari anaknya. Untunglah Vira datang ke sini, Mas..”
~I purposely left this story hanging.~
~Let the readers decide what’s the best ending for this story…
especially related to the chunk of lyrics I’ve posted at the beginning.~
~